Kamis, 02 Juni 2011

4 istri

Suatu ketika ada seorang pedagang kaya yang mempunyai empat orang istri.Dia mencintai istri yang keempat dan menganugrahinya harta dan kesenangan yang banyak. Sebab dialah yang tercantik diantara semua istrinya. Pria ini selalu memberikan yang terbaik buat istri keempatnya.
      Pedagang itu juga mencintai istrinya yang ketiga. Dia sangat bangga dengan istrinya ini dan selalu berusaha untuk memperkenalkannya kepada semua temannya. Namun ia juga selalu khawatir kalau istrinya akan lari dengan pria lain.
      Begitu juga dengan istri yang kedua. Ia  pun sangat menyukainya. Ia adalah istri yang sabar daan pengertian. Kapanpun pedagang itu mendapat masalah, ia selalu meminta pertimbangan istrinya yang kedua. Dialah tempat bergantung. Dia selalu menolong dan mendampingi suaminya, melewati masa-masa yang sulit.
      Sama halnya dengan istri yang pertama. Dia adalah pasangan yang sangat setia. Dia selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarga ini. Dialah yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan usaha sang suami. Akan tetapi, sang pedagang, tak begitu mencintainya. Walaupun sang istri pertama ini begitu sayang padanya, namun sang pedagang tak begitu mempedulikannya.
      Suatu ketika, si pedagang sakit. Lama kemudian, ia menyadari, bahwa ia akan segera mati. Dia meresapi semua kehidupan indahnya, dan beerkata dalam hati. "Saat ini, aku mempunyai empat orang istri. Namun, saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan jika aku harus hidup sendiri."
      Lalu ia meminta semua istrinya datang, dan kemudian mulai bertanya pada  istri keempaatnya. "Kaulah yang paling kucintai, kuberikaan kau gaun dan perhiasan indah. Nah, sekarang, aku akan mati,maukah kau mendampingiku dan menemaniku?Ia terdiam. "Tentu Saja tidak," jawab istri keempat, dan pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa.
      Jawaban itu sangat menyakitkan hati. Seakan akan, ada pisau yang terhunus dan mengiris-ngiris hatinya. Pedagang yang sedih itu lalu bertanya pada istri ketiga. "Akupun mencintaimu sepenuh hati, dan saat ini, hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku, daan menemani akhir hayatku? Istrinya menjawab,"Hidup begitu indah disini. Aku akan menikah jika kau mati." Sang pedagang begitu terpukul dengan ucapan ini. Badannyamulai merasa demam.
      Lalu, ia berpaling pada istrinya yang kedua. "Aku selalu berpaling padamu setiap kali mendapat masalah. Dan kau selalu mau membantuku. Kini , aku butuh sekali pertolonganmu. Kalau aku mati, maukah kau ikut dan mendampingiku?" Sang istri menjawab pelan. "Maafkan aku,"ujarnya,"aku tak bisa menolongmu kali ini. Aku hanya bisa mengantarmu ke liang kubur saja. Nanti akan kubuatkan makam yang indah buatmu." Jawaban itu seperti kilat yang menyambar. Sang pedagang kini merasa putus asa.
      Tiba-tiba terdengarsebuah suara. "Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut ke manapun kau pergi. Aku tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu." Sang pedagang lalu menoleh ke samping, dan mendapati istri pertamanya  di sana.Dia tampaak begitu kurus.Badannya tampak seperti oraang kelaparan. Merasa meenyesal, sang pedagang lalu bergumam, "kalau  saja, aku bisa merawtmu lebih baik saat aku mampu, tak akan kubiarkan kau seperti ini, istriku."


Sesungguhnya kita punya empat istri dalam hidup ini:

Istri yang keempat adalah tubuh kita. Seberapapun banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah, semuanya akan hilang. Ia akan pergi segera kalau kita meninggal

Istri yang ketiga adalah status sosial dan kekayaan. Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka saat berpindah, dan melupakan kita yang pernah memilikinya.

Istri yang kedua, adalah kerabat dan teman-teman. Seberapa jua dekat hubungan kita  dengan mereka,  mereka tak akan bisa bersama kita selamanya. Hanya sampai kuburlah mereka  akan menemani kita.

Dan teman sesungguhnya, istri pertama kita adalah jiwa dan amal kita. Mungkin kita sering mengabaikan, dan melupakannya demi kekayaan dan kesenangan pribadi. Namun, sebenarnya, hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia dan mendamping kemana pun kita melangkah. hanya jiwa dan amal yang mampu menolong kita di akhirat kelak. Jadi selagi mampu, perlakukanlah jiwa dan amal kita dengan  bijak. Jangan sampai kita menyesal belakangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar